Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Read Me

I'm an open book; sheets of paper soaked wet with sweat, bound by broken promises, written in illegible scribbles of licorice-scented blood.
I'm an open book, composed of fragments of forgotten fables and long recycled lyrics and shards of sharp-edged stories and pieces of the people I love, but--
Most of my pages remain unwritten.
I'm an open book, so write on me if you would, or close me for good, or read me if you could.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Ha-ha. Bound by broken promises. Seterluka itukah manusia atas kata-kata yang menyita (waktu, kepercayaan)?

Anonim mengatakan...

Ha-ha. Bound by broken promises. Seterluka itukah manusia atas kata-kata yang menyita (waktu, kepercayaan)?

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief