Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Bertahan

Do you like what you see in the mirror?

Ada yang bilang perubahan itu niscaya, tapi sekarang ini kaget juga melihat wajah asing di dalam cermin. Semakin banyak kerut dari senyum pura-pura, semakin banyak jerawat dari mikir nggak tahu apa, semakin banyak komedo dari pulang malam buat kerjaan yang nggak bikin bangga, semakin pekat lingkaran hitam dari malam-malam tanpa mimpi, cuma berpegangan sama nostalgia, adiksi, sensasi, dan distraksi, semakin banyak entri yang diulang-ulang aja, semakin banyak teman pergi karena nggak tahan diganggu terus ketenangan (atau ke-tidak-tenangan) hidupnya. Semakin lelah, kata mereka. Tapi kenapa?


Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief