Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Paris

Catatan-catatan di Les Deux Magots, musim panas lalu.

Kebanyakan kota dibangun dari bangunan dan jalan. Beberapa, seperti Paris, dibangun dari gagasan. Kita menyaksikan sendiri bagaimana gagasan saling bertumbukan dan akhirnya membentuk realita di jalan-jalannya. Seperti gagasan kebebasan berpendapat yang diuji melawan gagasan 'iman' suatu kaum, misalnya. Atau dilema gagasan gentrifikasi, yang membuat siklus hidup-mati setiap arrondissement (distrik dalam kota Paris) seakan tidak pernah berhenti. Gagasan-gagasan yang menjadi fondasi kota ini bahkan jauh lebih kuat dari rajutan sosial: "aku ada karena yang lain memberiku kemerdekaan untuk mengada--aku tidak akan mengusik kemerdekaan mereka sebagaimana mereka tidak akan mengusik kemerdekaanku." Menghirup udara segar di Coulée Verte, menapak gang-gang sempit di Quartier Latin, membaca poster dan sticker yang menantang lantang di tembok-tembok Le Marais diiring bising musik punk dari pintu apartemen yang setengah terbuka mengingatkan kembali: kota bukan batu dan marmer semata--fakta yang sering terlupa, saat realita di kota tempat tinggal kita terkungkung dalam ilusi satu ruang ber-AC ke ruang ber-AC lainnya. 


Aisha, Andi, François: merci beaucoup!

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief